Praise of Death Episode 2 Part 1 ~ by2206am
Woo Jin menatapnya dalam diam. Sim Deok merasa tidak enak, ia menjelaskan jika dirinya tidak memiliki niatan untuk menerobos masuk. Woo Jin tetap mematung sembari melirik barang bawaan Sim Deok.
“Myung Hee memberitahuku kalau kau sedang sakit. Tidak ada yang lebih buruk ketimbang jatuh sakit saat kau sendirian dan jauh dari rumah..”
“Aku buatkan bubur untukmu”, ujar wanita itu sambil membuka kain pengikat kotak bekal.
“Saat di Gyeongseong aku biasa membuatnya untuk adik – adikku jadi buburku adalah untuk..”, ucapan Sim Deok terputus setelah melihat wajah tanpa ekspresi Woo Jin yang belum sedikit pun bereaksi.
Sim Deok beranggapan jika mungkin Woo Jin tidak menyukai bubur, “Tetap saja kau harus makan. Kami membutuhkanmu di gedung studio” .
Woo Jin masih belum bersuara, ia melirik tumpukan buku di meja. Shim Deok langsung berkata jika seorang penulis tidak seharusnya menyimpan buku di lantai.
Woo Jin menyuruhnya pergi. Sim Deok langsung berfikir cepat, “Aku akan pergi kalau hujannya redah, aku tak membawa payung”.
Sayang, lawan bicaranya bukanlah orang bodoh, ia bisa membaca raut Sim Deok jika tengah berbohong, “Kau berjalan jauh sampai ke sini menembus hujan ?”
“Yah itu... Saat aku kemari belum turun hujan”, elak Sim Deok gugup.
“Akan kupinjamkan milikku !”
“Sebenarnya aku tidak suka meminjam sesuatu dari orang lain”
Sim Deok tak bisa lagi beralasan setelah Woo Jin melihat ke jendela dan memberitahunya jika hujan sudah berhenti.
Sejenak Sim Deok menatap langit sebelum akhirnya berjalan lunglai meninggalkan kediaman lelaki yang berhasil memikat hatinya. Diam – diam Woo Jin memperhatikan dari balik jendela ruang istirahatnya sambil menyunggingkan senyuman.
Woo Jin tampak menikmati bubur buatan penyanyi sopran itu.
“Kau dari mana saja ?”, tanya Nan Pa sekembalinya Sim Deok ke gedung studio.
“Aku barusan keluar untuk mencari udara”. Nan Pa hanya mengangguk berusaha mempercayai perkataannya.
Kehadiran Woo Jin mengagetkan semua orang karena ia tiba – tiba masuk ke ruang latihan. Myung Hee langsung menanyakan keadaannya.
“Ya, aku merasa sudah lebik baik, berkat suguhan istimewa dari seseorang”
“Siapa yang kau maksud ?”
Woo Jin tak menjawab, ia hanya melemparkan senyum penuh makna ke arah Sim Deok.
Mereka kini berjalan beriringan. Woo Jin yang mulanya selalu bersikap dingin perlahan mulai membuka diri pada Sim Deok, “Ini adalah peringatan kematian ibuku, jadi aku cuti beberapa hari..”
“Aku tak suda menjelaskan, jadi aku bilang pada mereka kalau aku sakit..”
“Setelah ibuku meninggal saat umurku lima tahun, ayahku menikah lagi untuk yang ketiga kalinya..”
“Karena aku masih sangat kecil, aku hampir tidak memiliki kenangan tentang dirinya..”
“Namun aku mencoba untuk mempertahankan sedikit yang aku miliki..”
“Itu sebabnya aku menghabiskan beberapa hari hanya memikirkannya..”
“Aku mengatakan ini karena kau pikir aku ini sakit, jadi jangan dibawa serius”, ucap tulus Woo Jin
Sim Deok berfikir jika ibu Woo Jin pasti sangat bahagia karena memiliki seorang putra yang sangat peka dan merindukannya sepanjang waktu.
“Juga puisi yang kubaca, itu luar biasa. Kau juga menulis drama ?”, imbuh Sim Deok..
“Belum satupun”
Sim Deok menyuruhnya mencoba mulai menulis, tapi Woo Jin hanya tertunduk diam.
“Kenapa tak menyahut ? Kau tak mau menulisnya ?”
Woo Jin menghentikan langkahnya dan berkata, “Aku suka”
“Apa ?”, jawab kaget Sim Deok karena mendengar kalimat yang begitu ambigu.
“Drama. Aku suka”
Sim Deok mulai kikuk, “Aaa.. Ya, tentu saja. Aku tak sadar kita sudah berjalan sejauh ini. Kalau begitu permisi”, ucapnya yang kemudian berjalan ke arah yang berlawanan.
Woo Jin mengucapkan terima kasih karena telah merapikan buku – bukunya membuat Sim Deok kembali berbalik dan lanjut menanyakan rasa bubur buatannya dengan suara begitu gugup.
“Aku tidak”
Sim Deok tampak kecewa. Woo Jin pun berkata jika ia hanya menirukan perkataan ketus Sim Deok saat pertama bertemu di gedung latihan, “AKU TIDAK”. Sim Deok langsung tersenyum mendengar penjelasannya.
Esoknya di tengah – tengah sesi latihan beberapa korps Jepang menerobos masuk ruangan. Woo Jin memperingatkan sikap tak sopan mereka.
Ternyata pria misterius yang pernah bersembunyi di samping gedung studio merupakan seorang polisi yang sangat antisipasi terhadap orang Joseon.
“Kau orang Joseon ?”, tanyanya sambil menatap Woo Jin penuh amarah.
“Apa ada orang Joseon lagi disini ?!!”
Tomoda menghampiri dan bertanya apa yang sebenarnya membawa mereka kemari, “Kami para murid yang sedang berlatih untuk pertunjukan di panggung, jadi...”
Pria itu menyela, “Aku tanya apa mereka orang Korea, bukan apa yang mereka lakukan disini !”, bentaknya.
Woo Jin kesal, ia mendekati pria itu dan berkata dalam bahasa Joseon, “Benar kami orang Korea”
“Bicaralah pakai bahasa kami !”, amuk polisi tadi.
“Aku melakukannya. Bahasa Joseon adalah bahasaku”, ucap Woo Jin dengan tatapan tajam. Sontak polisi itu langsung menodongkan pistol ke kening Woo Jin meski tak tahu apa yang dia ucapkan barusan, “Dasar orang Joseon kurang ajar ! Beraninya kau !...”
“Sudah jelas ku kasih tahu bicara pakai bahasa kami !!”
Tomoda berusaha menghentikan pertikaian, “Bicara Jepangnya belum cukup lancar..”
“Jika anda memberitahuku kenapa anda datang ke sini aku bisa jelaskan kepadanya”, ucap Tomoda takut – takut.
Polisi itu akhirnya menurunkan senjata, “Akhir – akhir ini orang Joseon yang belum puas dan sosialis dengan niat yang tidak murni sering bertemu untuk melakukan tipu muslihat bersama”
“Bukan itu yang kami lakukan”, sahut Tomoda.
Polisi itu tak mau mendengar alasan apapun, ia menyuruh dua bawahannya untuk menggeledah seluruh penjuru ruangan.